a. Tafsir bil Ma’tsur (Al-Qur’an ditafsir dengan Hadits Nabi)
– Ibnu Jarir Al-Thabary
Nama lengkapnya Abu Ja’far Muhammad Bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Thabary. Beliau dilahirkan di Thabaristan pada tahun 224 H. Diusia yang masih sangat belia, beliau keluar dari negeri kelahirannaya menuju beberapa wilayah yang menurutnya cocok untuk menimba ilmu. Diantara negara yang pernah dijelajahinya dalam pengembaraannya menunutut ilmu adalah; Mesir, Syam, Irak. Kemudian menghabiskan sisa usianya di Baghdad. Bapak sejarawan ini wafat di Baghdad pada tahun 310 H atau genap usianya 76 tahun.
Beliau unggul dalam berbagai ilmu pengetahuan. Diantara ilmu yang dikuasai beliau adalah ilmu qiraat, tafsir, hadits, sejarah dan lain sebagainya. Adapun karya tulisnya yang terkenal adalah kitab tafsir, kitab al-qiraat, al-’adadu wa al-tandzil, kitab ikhtilafu al-ulama, tarikh al-umamu wa al-muluk, tarikh al-rijaal mina al-shahabah wa al-tabi’in, kitabu ahkam syaraa’ii al-islam, kitab ushuluddin.
Ciri penafsiran beliau adalah meliputi:
a. Istinbath hukum (mengeluarkan hukum)
b. Tarjih ( Menyebutkan pendapat masing masing ulama pada sebuah permasalahan kemudian mengambil salah satu pendapat yang paling rajih berdasarkan dalil valid dan eksplisit)
c. Al-bahtsu al-harru al-dakiq (penelitian secara mendalam)
– Ibnu ‘Athiyah Al-Andalusy
Nama lengkapnya adalah al-Qadhi Abu Muhammad Abd al-Haq ibn Ghalib ibn Abdurrahman ibn Ghalib ibn Athiyyah al-Muharibi. Ia lahir di Granada pada tahun 481 H. Ia dibesarkan di tengah keluarga yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ayahnya adalah seorang ulama hadis terkemuka yang hafal beribu-ribu hadis. Dari ayah inilah ia mendapat pendidikan dasar agama Islam.
Ibnu Athiyyah dianugerahi kecerdasan yang luar biasa. Karena itu, pelajaran yang diterimanya dengan mudah dihafalkan. Tentang hal ini, Imam as-Sayuthi dalam kitab Bughya al-Wu’ad berkata, “Ia orang yang mulia. Terlahir dari keluarga yang berilmu. Otaknya sangat cerdas. Bagus pemahamannya dan terpuji budi pekertinya.”
Riwayat hidup Ibnu Athiyyah tak pernah sepi dari pengembaraan menuntut ilmu. Kota-kota seperti Qurthubah, Isybiliyyah, Marsiyah, dan Balansiyah adalah sedikit kota yang pernah dikunjungi. Beragam disiplin ilmu ia pelajari dari sejumlah ulama. Misalnya, Abu Ali Husin ibn Muhammad al-Ghassani. Ulama ini adalah gurunya yang utama. Namun sayang, ia berguru tak lama sebab al-Ghassani wafat pada tahun 498 H.
Setelah itu, Ibnu Athiyyah berguru kepada al-Faqih Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad at-Taghlibi. Sebagaimana al-Ghassani, ia juga belajar hingga at-Taghlibi wafat pada tahun 508 H. Demikian juga kepada Abu Ali al-Husin ibn Muhammad ash-Shadafi hingga ash-Shadafi wafat pada tahun 514 H. Hatta, pada tahun 542 H Ibnu Athiyyah meninggal dunia di Andalus.
Salah satu karyanya yang berupa tafsir diberi nama al-Muharrir al-Wajiz fi Tafsir Al-Qur’an al-Aziz yang mampu membangkitkan nasionalisme Arab. Melalui tafsir itu, ia tak henti-hentinya memberi semangat kepada generasi muda untuk bersatu dan memandang kehidupan dengan penuh optimistis.
– As-Sudai
Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais an-Najdi. Beliaudilahirkan di Riyadh, Arab Saudi tahun 1961. Dia adalah imam besar Masjidil Haram Kota Suci Mekkah, Arab Saudi.
Beliau telah hafal al-Qur’an pada umur 12 tahun. Tumbuh di Riyadh, Sudais belajar di SD Al-Muthana bin Harits, dan setelah itu kuliah di Riyadh Scientific Institution dan lulus tahun 1979 (umur 17–18 tahun) dengan nilai baik. Ia memperoleh ijazah Syariah dari Universitas Riyadh pada tahun 1983 (umur 21–22 tahun), dan menjadi anggota PPI (Pengetahuan Pokok Islam) sebagai pemberi ceramah atau dosen. Ia mempelajari Islam dari gurunya di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud pada tahun 1987 (umur 25–26 tahun) dan menerima gelar Ph.D. Ia aktif di Universitas Syariah Islam Ummul Qura pada tahun 1995 (umur 33–34 tahun) sebagai asisten profesor setelah aktif di Universitas Riyadh.
– Muqatil bin Sulaiman
Nama lengkapnya Muqatil bin Sulaiman al-Balkhi. Beliau adalah seorang Sunni abad ke-8 mufassir Al-Quran.Muqatil adalah penulis tafsir (komentar) Qur’an. Dia juga berperan dalam beberapa bagian dalam perang sipil selama kekhalifahan Marwan bin Muhammad. Ia mempekerjakan ta’wil dalam tafsirnya bahkan pada ayat tentang sifat Allah diyakini oleh banyak untuk menunjukkan kontradiksi dalam pikirannya
– Muhammad bin Ishak
Nama lengkapnya Muhammad bin Ishaq bin Yasar. Beliau termasuk sejarawan muslim yang pertama. Lahir di Madinah pada tahun 85H / 704M dan meninggal pada tahun 151H / 768M. Ia yang pertama kali menulis Sirat Rasulullah, yang merupakan biografi Rasulullah pertama yang paling komprehensif.Ibnu Sa’ad berkata tentang Ibnu Ishaq, “Ia merupakan yang pertama mengumpulkan sejumlah ekspedisi dari Utusan Allah (Muhammad) dan mencatatnya.”
b. Tafsir bil Ra’yi
–Abu Bakar Asam (Mu’tazilah)
–Abu Muslim Muhammad bin Bahr Isfahany
–Ibnu Jaru al-Asady
–Abu Yunus Abdulsalam
Senin, 23 Mei 2016
Minggu, 22 Mei 2016
Profil Ibnu 'Athiyah Al-Andalusy
– Ibnu ‘Athiyah Al-Andalusy
Nama lengkapnya adalah al-Qadhi Abu Muhammad Abd al-Haq ibn Ghalib ibn Abdurrahman ibn Ghalib ibn Athiyyah al-Muharibi. Ia lahir di Granada pada tahun 481 H. Ia dibesarkan di tengah keluarga yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ayahnya adalah seorang ulama hadis terkemuka yang hafal beribu-ribu hadis. Dari ayah inilah ia mendapat pendidikan dasar agama Islam.
Ibnu Athiyyah dianugerahi kecerdasan yang luar biasa. Karena itu, pelajaran yang diterimanya dengan mudah dihafalkan. Tentang hal ini, Imam as-Sayuthi dalam kitab Bughya al-Wu’ad berkata, “Ia orang yang mulia. Terlahir dari keluarga yang berilmu. Otaknya sangat cerdas. Bagus pemahamannya dan terpuji budi pekertinya.”
Riwayat hidup Ibnu Athiyyah tak pernah sepi dari pengembaraan menuntut ilmu. Kota-kota seperti Qurthubah, Isybiliyyah, Marsiyah, dan Balansiyah adalah sedikit kota yang pernah dikunjungi. Beragam disiplin ilmu ia pelajari dari sejumlah ulama. Misalnya, Abu Ali Husin ibn Muhammad al-Ghassani. Ulama ini adalah gurunya yang utama. Namun sayang, ia berguru tak lama sebab al-Ghassani wafat pada tahun 498 H.
Setelah itu, Ibnu Athiyyah berguru kepada al-Faqih Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad at-Taghlibi. Sebagaimana al-Ghassani, ia juga belajar hingga at-Taghlibi wafat pada tahun 508 H. Demikian juga kepada Abu Ali al-Husin ibn Muhammad ash-Shadafi hingga ash-Shadafi wafat pada tahun 514 H. Hatta, pada tahun 542 H Ibnu Athiyyah meninggal dunia di Andalus.
Salah satu karyanya yang berupa tafsir diberi nama al-Muharrir al-Wajiz fi Tafsir Al-Qur’an al-Aziz yang mampu membangkitkan nasionalisme Arab. Melalui tafsir itu, ia tak henti-hentinya memberi semangat kepada generasi muda untuk bersatu dan memandang kehidupan dengan penuh optimistis.
Nama lengkapnya adalah al-Qadhi Abu Muhammad Abd al-Haq ibn Ghalib ibn Abdurrahman ibn Ghalib ibn Athiyyah al-Muharibi. Ia lahir di Granada pada tahun 481 H. Ia dibesarkan di tengah keluarga yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ayahnya adalah seorang ulama hadis terkemuka yang hafal beribu-ribu hadis. Dari ayah inilah ia mendapat pendidikan dasar agama Islam.
Ibnu Athiyyah dianugerahi kecerdasan yang luar biasa. Karena itu, pelajaran yang diterimanya dengan mudah dihafalkan. Tentang hal ini, Imam as-Sayuthi dalam kitab Bughya al-Wu’ad berkata, “Ia orang yang mulia. Terlahir dari keluarga yang berilmu. Otaknya sangat cerdas. Bagus pemahamannya dan terpuji budi pekertinya.”
Riwayat hidup Ibnu Athiyyah tak pernah sepi dari pengembaraan menuntut ilmu. Kota-kota seperti Qurthubah, Isybiliyyah, Marsiyah, dan Balansiyah adalah sedikit kota yang pernah dikunjungi. Beragam disiplin ilmu ia pelajari dari sejumlah ulama. Misalnya, Abu Ali Husin ibn Muhammad al-Ghassani. Ulama ini adalah gurunya yang utama. Namun sayang, ia berguru tak lama sebab al-Ghassani wafat pada tahun 498 H.
Setelah itu, Ibnu Athiyyah berguru kepada al-Faqih Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad at-Taghlibi. Sebagaimana al-Ghassani, ia juga belajar hingga at-Taghlibi wafat pada tahun 508 H. Demikian juga kepada Abu Ali al-Husin ibn Muhammad ash-Shadafi hingga ash-Shadafi wafat pada tahun 514 H. Hatta, pada tahun 542 H Ibnu Athiyyah meninggal dunia di Andalus.
Salah satu karyanya yang berupa tafsir diberi nama al-Muharrir al-Wajiz fi Tafsir Al-Qur’an al-Aziz yang mampu membangkitkan nasionalisme Arab. Melalui tafsir itu, ia tak henti-hentinya memberi semangat kepada generasi muda untuk bersatu dan memandang kehidupan dengan penuh optimistis.
Langganan:
Postingan (Atom)